Rabu, 07 Maret 2012

Pengujian Pada Biodiesel


Berikut Ini Beberapa Parameter Pengujian Biodiesel
·         Diperiksa warna biodiesel yang dihasilkan secara visual
·         Diperiksa pH biodiesel yang dihasilkan dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter. pH standar biodiesel berkisar [ada pH 7.
·         Pengukuran density  biodiesel menggunakan piknometer ( Ketaren,1986 )           :
1.       Ditimbang berat piknometer kosong.
2.       Ditimbang berat piknometer + air ( pada 20o C )
3.       Dihitung volme piknometer.
4.       Ditimbang berat piknometer + biodiesel.
5.       Dihitung berat biodiesel
6.       Dihitung densitas biodiesel

·         Pengukuran viskositas biodiesel ( Ketaren,1986 )                               :
1.       Ditentukan massa jenis bola dan massa jenis biodiesel
2.       Dimasukan biodiesel ke dalam tabung viskometer
3.       Dimasukan bola ke dalam tabung yang telah berisi biodiesel dan dijaga jangan sampai ada gelembung udara. Pada saat bola sampai tanda paling atas, stopwatch dihidupkan dan dimatikan pada saat bola sampai tanda bagian bawah
4.       Dicatat waktu yang digunakan , yaitu gerakan bola dari tanda bagian atas sampai tanda bagian bawah
5.       Dibalik tabung tersebut dan mengulangi pengikuran hingga dicapai harga viskositas yang tepat.
6.       Dihitung viskositas dengan rumus, µ= K (ρ1 – ρ2 )t

Bahan Campuran Briket Batubara dan Fungsinya

 

a.    Batubara, sebagai bahan utama pembuatan briket batubara.
·       Semakin tinggi nilai kalorinya, panas yang dihasilkan akan semakin tinggi
·       Semakin tinggi nilai kalorinya, pembakaran akan semakin lama karena unsur zat yang mudah terbakar (volatile matter) yang dikandungnya akan semakin sedikit
·       Semakin banyak komposisi batubaranya, pembakaran yang dihasilkan akan semakin panas dan semakin lama
·       Semakin tinggi nilai kalorinya semakin sulit menyala, karena kadar volatile matternya akan semakin sedikit
·       Semakin rendah nilai kalorinya, panas yang dihasilkan akan semakin berkurang dan lama pembakaran akan semakin cepat. Batubara dengan nilai kalori rendah juga mengandung banyak air sehingga menyulitkan dalam penyalaan, berasap dan panas yang berkurang. Solusinya dengan cara pengeringan (mengurangi kadar air) dan dengan cara karbonisasi (menaikkan kadar kalori batubara)
b.     Biomassa (serbuk kayu keras), sebagai bahan untuk mempercepat dan memudahkan proses pembakaran
·       Semakin banyak komposisi biomassa maka briket akan semakin mudah terbakar dan pencapaian suhu maksimalnya akan semakin cepat
·       Kelemahannya semakin banyak komposisi biomassanya, lama pembakaran menjadi semakin berkurang
·       Biomassa dapat diubah / diolah menjadi bio arang, yang merupakan bahan bakar dengan tingkat nilai kalor yang cukup tinggi dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
·       Semakin besar komposisi biomassa, maka kandungan emisi polutan CO dan polusi HC akan semakin berkurang

Sabtu, 03 Maret 2012

PLTU di Indonesia


Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara adalah salah satu jenis instalasi pembangkit tenaga listrik dimana tenaga listrik didapat dari mesin turbin yang diputar oleh uap yang dihasilkan melalui pembakaran batubara.
Siklus di PLTU dapat dibedakan menjadi
  1. Siklus Udara, sebagai campuran bahan bakar
  2. Siklus Air, sebagai media untuk menghasilkan uap air (steam)
  3. Siklus Batubara, sebagai bahan bakar

Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat; tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara.
Adanya rencana pembangunan PLTU baru di dalam dan luar Pulau Jawa dengan total kapasitas 10.000 MW, meningkatnya produksi semen setiap tahun, dan semakin berkembangnya industri-industri lain seperti industri kertas (pulp) dan industri tekstil merupakan indikasi permintaan dalam negeri akan semakin meningkat.  Demikian pula halnya dengan permintaan batubara dari negara-negara pengimpor mengakibatkan produksi akan semakin meningkat pula

Kamis, 01 Maret 2012

Energi Biomassa


Penggunaan energi besar-besaran telah membuat manusia mengalami krisis energi. Ini disebabkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam yang sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Untuk mengatasi krisis energi masa depan, beberapa alternatif sumber energi mulai dikembangkan, salah satunya adalah energi biomassa.
Biomassa, dalam industri produksi energi, merujuk pada bahan biologis yang hidup atau baru mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industrial. Umumnya biomassa merujuk pada materi tumbuhan yang dipelihara untuk digunakan sebagai biofuel, tapi dapat juga mencakup materi tumbuhan atau hewan yang digunakan untuk produksi serat, bahan kimia, atau panas. Biomassa dapat pula meliputi limbah terbiodegradasi yang dapat dibakar sebagai bahan bakar. Biomassa tidak mencakup materi organik yang telah tertransformasi oleh proses geologis menjadi zat seperti batu bara atau minyak bumi.Pada awalnya, biomassa dikenal sebagai sumber energi ketika manusia membakar kayu untuk memasak makanan atau menghangatkan tubuh pada musim dingin. Kayu merupakan sumber energi biomassa yang masih lazim digunakan tetapi sumber energi biomassa lain termasuk bahan makanan hasil panen, rumput dan tanaman lain, limbah dan residu pertanian atau pengolahan hutan, komponen organik limbah rumah tangga dan industri, juga gas metana sebagai hasil dari timbunan sampah.