Gasifikasi adalah suatu teknologi proses konversi bahan
padat menjadi gas yang mudah terbakar. Bahan padat yang dimaksud dari bahan bakar padat misalnya, biomassa, batubara, dan arang yang mengandung karbon (C), sedangkan
gas yang dimaksud adalah gas-gas yang dihasilkan dari proses gasifikasi seperti
CO, H2,
dan CH4. Melalui
gasifikasi, kita dapat mengkonversi hampir semua bahan organik kering menjadi
bahan bakar, sehingga dapat menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber bahan
bakar. Bahan baku untuk proses gasifikasi dapat berupa limbah biomassa, yaitu
potongan kayu, tempurung kelapa, sekam padi maupun limbah pertanian lainnya.
Gasifikasi umumnya terdiri dari
empat proses, yaitu pengeringan, pirolisis, oksidasi, dan reduksi. Pada
gasifier jenis unggun terfluidakan, kontak yang terjadi saat pencampuran antara
gas dan padatan sangat kuat sehingga perbedaan zona pengeringan, pirolisis,
oksidasi, dan reduksi tidak dapat dibedakan. Salah satu cara untuk mengetahui
proses yang berlangsung pada gasifier jenis ini adalah dengan mengetahui
rentang temperatur masing-masing proses, yaitu:
- Pengeringan: T > 150 °C
- Pirolisis/Devolatilisasi: 150
< T < 700 °C
- Oksidasi: 700 < T < 1500
°C
- Reduksi: 800 < T < 1000
°C
Proses
pengeringan, pirolisis, dan reduksi bersifat menyerap panas (endotermik),
sedangkan proses oksidasi bersifat melepas panas (eksotermik). Pada
pengeringan, kandungan air pada bahan bakar padat diuapkan oleh panas yang
diserap dari proses oksidasi. Pada pirolisis, pemisahan volatile matters
(uap air, cairan organik, dan gas yang tidak terkondensasi) dari arang atau padatan
karbon bahan bakar juga menggunakan panas yang diserap dari proses oksidasi.
Pembakaran mengoksidasi kandungan karbon dan hidrogen yang terdapat pada bahan
bakar dengan reaksi eksotermik, sedangkan gasifikasi mereduksi hasil pembakaran
menjadi gas bakar dengan reaksi endotermik. Penjelasan lebih lanjut mengenai
proses-proses tersebut disampaikan pada uraian berikut ini.
2.1.1. Proses Pengeringan (Drying)
Reaksi ini terletak pada bagian atas
reaktor dan merupakan zona dengan temperatur paling rendah di dalam reaktor
yaitu di bawah 150 oC. Proses pengeringan ini sangat penting
dilakukan agar pengapian pada burner dapat terjadi lebih cepat dan lebih
stabil. Pada reaksi ini, bahan bakar yang mengandung air akan dihilangkan
dengan cara diuapkan dan dibutuhkan energi sekitar 2260 kJ untuk melakukan
proses tersebut sehingga cukup menyita waktu operasi.
Menurut Kurniawan (2012), penelitian
yang telah dilakukannya menunjukan bahwa pengeringan manual oleh sinar matahari
berperan penting dalam mempercepat proses pengeringan didalam reaktor oleh
panas reaksi pembakaran (oksidasi). Penjemuran dengan sinar matahari pada suhu
diatas 32 0C selama dua jam dapat mempercepat waktu pengeringan di
dalam reaktor hingga 30% atau kurang dari 25 menit. Jika dibandingkan dengan
penjemuran pada suhu 30 0C yang mencapai 25-40 menit untuk proses
pengeringan saja.
2.1.2.Pirolisis
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. Suatu rangkaian proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara lambat pada T < 350 °C dan terjadi secara cepat pada T > 700 °C. Ketika suhu pada zona pirolisis rendah maka akan dihasilkan banyak arang dan sedikit cairan (air,hidrokarbon dan tar). Komposisi produk yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan, dan komposisi gas selama pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C, ketika komponen yang tidak stabil secara termal, seperti lignin pada biomassa dan volatile matters pada batubara, pecah dan menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang.
Pirolisis atau devolatilisasi disebut juga sebagai gasifikasi parsial. Suatu rangkaian proses fisik dan kimia terjadi selama proses pirolisis yang dimulai secara lambat pada T < 350 °C dan terjadi secara cepat pada T > 700 °C. Ketika suhu pada zona pirolisis rendah maka akan dihasilkan banyak arang dan sedikit cairan (air,hidrokarbon dan tar). Komposisi produk yang tersusun merupakan fungsi temperatur, tekanan, dan komposisi gas selama pirolisis berlangsung. Proses pirolisis dimulai pada temperatur sekitar 230 °C, ketika komponen yang tidak stabil secara termal, seperti lignin pada biomassa dan volatile matters pada batubara, pecah dan menguap bersamaan dengan komponen lainnya. Produk cair yang menguap mengandung tar dan PAH (polyaromatic hydrocarbon). Produk pirolisis umumnya terdiri dari tiga jenis, yaitu gas ringan (H2, CO, CO2, H2O, dan CH4), tar, dan arang.
2.1.3. Reduksi (Gasifikasi)
Reduksi
atau gasifikasi melibatkan suatu rangkaian reaksi endotermik yang disokong oleh
panas yang diproduksi dari reaksi pembakaran. Reduksi terjadi pada suhu <
800 0C dan menghasilkan gas mampu bakar (syngas) berupa H2, CO, dan CH4. Reaksi
berikut ini merupakan empat reaksi yang umum telibat pada gasifikasi.
- Water-gas reaction
Water-gas reaction merupakan reaksi oksidasi parsial karbon oleh kukus yang
dapat berasal dari bahan bakar padat itu sendiri (hasil pirolisis) maupun dari
sumber yang berbeda, seperti uap air yang dicampur dengan udara dan uap yang
diproduksi dari penguapan air. Reaksi yang terjadi pada water-gas reaction adalah:
Pada beberapa gasifier, kukus
dipasok sebagai medium penggasifikasi dengan atau tanpa udara/oksigen.
- Boudouard reaction
Boudouard reaction merupakan reaksi
antara karbondioksida yang terdapat di dalam gasifier dengan arang untuk
menghasilkan CO. Reaksi yang terjadi pada Boudouard reaction adalah:
- Shift conversion
Shift conversion merupakan reaksi reduksi karbonmonoksida oleh kukus untuk
memproduksi hidrogen. Reaksi ini dikenal sebagai water-gas shift yang menghasilkan peningkatan perbandingan hidrogen
terhadap karbonmonoksida pada gas produser. Reaksi ini digunakan pada pembuatan
gas sintetik. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
- Methanation
Methanation merupakan reaksi pembentukan gas methan. Reaksi yang terjadi pada methanation adalah:
Pembentukan methan dipilih terutama
ketika produk gasifikasi akan ppdigunakan sebagai bahan baku indsutri kimia. Reaksi ini juga
dipilih pada aplikasi IGCC (Integrated
Gasification Combined-Cycle) yang mengacu pada nilai kalor methan yang
tinggi.
2.1.4. Oksidasi (Pembakaran)
Oksidasi
atau pembakaran arang merupakan reaksi terpenting yang terjadi di dalam gasifier. Proses ini menyediakan seluruh
energi panas yang dibutuhkan pada reaksi endotermik. Oksigen yang dipasok ke
dalam gasifier bereaksi dengan
substansi yang mudah terbakar. Hasil reaksi tersebut adalah CO2 dan
H2O yang secara berurutan direduksi ketika kontak dengan arang yang
diproduksi pada pirolisis. Reaksi yang terjadi pada proses pembakaran adalah:
1.
C
+ O2 CO2 + 393.77 kJ/mol
2.
H2
+ ½ O2 H2O + 742 kJ/mol
Ada tiga elemen penting
untuk melakukan reaksi pembakaran ini, yaitu panas (heat), bahan bakar (fuel),
dan udara (oxygen). Reaksi pembakaran
hanya akan terjadi jika ketiga elemen tersebut tersedia. Didalam udara tidak
hanya terkandung oksigen ( O2) saja, tapi juga terdapat nitrogen (N2)
dengan berbandingan 21% dan 79%. Nitrogen ini jika terikat dengan O2
akan menjadi polutan yaitu NO2 yang bisa menjadi racun dan mencemari
udara. Disamping menjadi polutan, N2 juga dapat menyerap panas pada
proses pembakaran sehingga bisa menurunkan efisiensi pembakaran. Dalam
perhitungan neraca massa dan energi
jumlah nitrogen yang masuk sama dengan yang keluar dan sedikit membentuk
NO2 atau dengan kata lain gas ini hanya lewat dalam proses dan
mengurangi efisiensi pembakaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar